Pedoman Pengelolaan Limbah B3 di Pelabuhan

0

Apakah Anda pernah berpikiran jika limbah B3 ini hanya berasal dari pabrik dan juga berbagai industri? Ternyata itu tidak! Bahkan tempat yang tidak Anda sangka seperti pelabuhan adalah sumber dari limbah B3 yang dapat mencemari laut.

Mungkin saja Anda sadar hal ini karena Pelabuhan memang menjadi salah satu penyebab bagaimana berbagai biota laut yang ada disekitarnya menjadi mati. Apakah ada solusi tentang bagaimana tata cara pengelolaan limbah B3 yang ada di Pelabuhan? Mari kita cari tahu di artikel ini!

Sumber Limbah B3 di Pelabuhan

Pelabuhan seringkali berperan sebagai tempat bongkar dan muat Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), baik itu dari luar negeri maupun produksi lokal. Selain itu, pelabuhan juga menjadi tempat pemuatan B3 untuk pengiriman ke luar negeri melalui jalur angkutan laut. 

Sebelum proses bongkar muat B3 dilakukan, seringkali terdapat kegiatan penempatan sementara B3 di suatu area tertentu, sebelum kemudian dikirim kepada pemilik atau pengguna B3 melalui angkutan darat atau laut.

Indonesia memang menjadi salah satu yang memiliki Pelabuhan yang sangat banyak, ini tentu saja adalah hal yang sangat biasa mengingat geografis dari Indonesia sendiri adalah kepulauan yang dimana untuk jalur logistic dari dalam negeri atau dari luar negeri sering dilakukan di Pelabuhan sebagai pusatnya.

Akan tetapi, kegiatan bongkar muat kapal di pelabuhan dapat menghasilkan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Beberapa contoh limbah B3 yang dihasilkan dari kapal antara lain:

  • Oli
    Kegiatan bongkar muat kapal seringkali melibatkan pemakaian oli sebagai pelumas. Limbah oli tersebut dapat menjadi B3 jika tidak dikelola dengan baik. Perawatan yang buruk atau kebocoran dapat menyebabkan oli tercecer di pelabuhan.
  • Ceceran Bahan Bakar
    Kapal menggunakan bahan bakar untuk pengoperasiannya. Kadang-kadang, ceceran bahan bakar seperti minyak diesel atau minyak bakar dapat terjadi selama proses bongkar muat. Ceceran ini dapat menjadi sumber limbah B3 yang berpotensi mencemari lingkungan.
  • Pembuangan Air Ballast
    Kapal menggunakan air ballast untuk menjaga kestabilan selama pelayaran. Saat pembuangan air ballast dilakukan di pelabuhan, limbah yang terkandung dalam air ballast dapat mencakup B3, terutama jika air ballast mengandung zat-zat berbahaya.
    Penting bagi kapal dan pelabuhan untuk memahami dan mengelola limbah B3 ini dengan baik. Proses bongkar muat kapal harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan persyaratan keamanan yang ketat untuk mencegah terjadinya kebocoran atau pencemaran lingkungan. Ada dasar hukum dan juga prinsip dari pengelolaan limbah B3 yang perlu diketahui juga.

Dasar Hukum dan Prinsip Pengelolaan Limbah B3

Untuk dasar hukum dari pengelolaan limbah diatur di dalam:

  • Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009, Pasal 1, Angka 23
  • Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, Pasal 1 Angka 11

Kedua dasar hukum tersebut menyebutkan jika semua pihak dan juga orang yang menghasilkan limbah B3 wajib untuk melakukan pengelolaan limbah B3 dari mulai pengurangan sampai dengan penimbunan, ini termasuk juga untuk pihak Pelabuhan bisa melakukannya.

Pelabuhan juga wajib tahu betul apakah sumber limbah B3 seperti oli, ceceran bahan bakar kapal, dan juga pembuangan air ballast itu termasuk ke dalam kategori yang berbahaya atau tidak bagi manusia dan juga laut yang sudah pasti bisa terdampak.

Selama memahami prinsip pengelolaan limbah B3 pelabuhan yaitu Polluter pays principle, from cradle to grave, meminimalisir limbah B3, dan juga proximity, tentu saja Pelabuhan bisa menjadi tempat perdagangan yang lebih sehat bagi lingkungan juga. Jangan sampai kegiatan ekonomi memberikan dampak yang negatif bagi laut.

Pedoman Pengelolaan Limbah B3 di Pelabuhan

Terdapat alur dari pengelolaan limbah B3 di Pelabuhan yang harus diketahui dan pastinya harus diterapkan juga. Alur atau hierarki dari pengelolaan limbah B3 di Pelabuhan adalah bersifat untuk pengelolaan limbah B3 untuk menurunkan volume dari limbah B3 yang berasal dari berbagai sumber di Pelabuhan tersebut.

Adapun prosedur pengelolaan limbah B3 di Pelabuhan B3 di antaranya adalah sebagai berikut.

Reduce

Yang pertama dalam pengelolaan limbah B3 di Pelabuhan adalah reduce. Langkah ini adalah dengan cara mempertimbangkan penggunaan kembali barang atau produk sebanyak mungkin sebelum membuangnya.

3R (Reuse, Recycle, Recovery)

Daur ulang merupakan proses mengubah limbah menjadi bahan baku baru. Mengidentifikasi bahan yang dapat didaur ulang jika di Pelabuhan dan memastikan terpisah dari limbah non-daur ulang adalah langkah penting dalam mengurangi dampak limbah terhadap laut. Dengan mendaur ulang, bahan yang masih bernilai dapat digunakan kembali dan mengurangi kebutuhan akan bahan baku baru.

Jika di dalam B3 yang ada di Pelabuhan, yang pasti adalah dengan memanfaatkan kembali atau melakukan recycle pada oli dan juga bahan bakar yang terbuang dari proses Pelabuhan tersebut bekerja atau beroperasi.

Pengolahan

Semua B3 yang masih bisa diolah akan dilakukan pengolahan. Selama ini, proses pengolahan dari limbah B3 yang bisa dimanfaatkan adalah oli dan juga tumpahan bahan bakar kapal yang ada di Pelabuhan. Itu masih bisa digunakan kembali dan diolah menjadi bahan bakar kembali.

Penimbunan atau Landfill

Dan terakhir adalah dengan melakukan penimbunan dari semua limbah B3 yang sudah melalui pengolahan. Penimbunan atau landfill ini harus memperhatikan berbagai unsur agar penimbunan tidak berdampak buruk bagi lingkungan secara penuh, atau setidaknya meminimalisir sekali.

SOP Penanganan Tumpahan Limbah B3 di Pelabuhan

Tidak semua orang bisa melakukan penanganan terhadap limbah B3 yang ada di Pelabuhan. Harus ada personel khusus yang terjun ke lapangan untuk mengatasinya. Mereka akan melakukan berbagai prinsip, dan prinsip yang digunakan di Pelabuhan adalah ABSB (Amankan, Bendung, Serap, Bersihkan).

  • Amankan
    Misalkan terdapat bahan kimia yang tumpah seperti oli dan bahan bakar, yang sifatnya mudah terbakar berarti di lokasi kejadian tidak boleh ada sumber panas dan listrik.
  • Bendung
    Apabila memang ada kebocoran, hal yang harus dilakukan adalah dengan menutup valve atau mematikan pompa terlebih dahulu sebelum membendung bahan kimia menggenang yang bisa menggenang di laut atau bahkan di lantai.
  • Serap
    Jika pembendungan sudah selesai, maka tumpahan bahan kimia tersebut bisa dilakukan penyerapan dengan peletakan absorben di tengah-tengah genangan bahan kimia tanpa melakukan pembendungan terlebih dahulu. Hal ini akan membuat genangan tersebut akan cenderung semakin melebar.
    Maka dari itu, pembendungan dahulu sisi-sisi luar genangan sebelum melakukan penyerapan adalah hal yang sangat penting.
  • Bersihkan
    Dan terakhir membersihkan adsorben yang terkontaminasi bahan kimia merupakan langkah yang penting untuk menjaga keamanan dan mencegah penyebaran bahan berbahaya.

Kesimpulan

Itulah tadi pedoman pengelolaan limbah B3 di Pelabuhan. Adanya SOP yang jelas tentu saja membuat berbagai limbah B3 di Pelabuhan tidak mencemari lingkungan dengan penuh. Pengurangan setidaknya dilakukan karena menerapkan konsep zero waste di limbah B3 pelabuhan memang sangat sulit untuk dilakukan.

Ralali Business Solution

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.