Pahami Alur Pengelolaan Limbah B3 Pertambangan

0

Kita mengetahui bahwa limbah merupakan sisa produksi dari pabrik atau perindustrian yang sering menjadi masalah di tengah masyarakat Indonesia. Masalah ini bisa berupa polusi hingga pencemaran lingkungan yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat sekitar. Salah satu limbah berbahaya ini adalh limbah B3 pertambangan yang juga perlu dikelola agar dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Sebagai pemilik perusahaan pertambangan, seharinya membuat kebijakan untuk mengelola dan memproses limbahnya agar tidak membahayakan lingkungan maupun kesehatan pekerjanya. Nah berikut ini adalah artikel tentang pengelolaan limbah B3 pertambangan yang perlu diketahui.

Dampak Negatif Limbah Pertambangan

Limbah B3 pertambangan ini dapat memberikan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar, berikut adalah beberapa dampak negatif yang ditimbulkan jika tidak dilakukan pengolahan limbah B3 pertambangan yang benar:

Dampak negatif terhadap lingkungan:

  • Tanah, tanah juga bisa tercemar akibat zat kimia yang ditimbulkan oleh limbah B3 pertambangan diantaranya Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb. Fe dan Mn yang memiliki kadar yang bersifat racun terhadap tanaman tidak dapat berkmebang dengan baik.
  • Hilangnya vegetasi penutup tanah, penambangan dengan menggali tanah tidak melakukan upaya reklamasi atau reboisasi sehingga lokasi penggalian terlihat gersang.
  • Erosi tanah, areal bekas pertambangan bisa berpotensi membuat erosi tanah dan dapat memperlebar dinding tebing sungai.
  • Air,  limbah pertambangan juga dapat mencemari air yakni air sungai oleh beberapa zat yang berbahaya seperti belerang, merkuri, dan lain sebagainya, zat ini juga dapat membuat iritasi pada kulit manusia hingga paling parahnya membuat kanker kulit.
  • Hutan, pertambangan dapat menghancurkan sumber kehidupan seperti pertanian hingga hutan yang dibebaskan oleh perusahaan pertambangan. Hal ini dapat menyebabkan potensi bencana banjir akibat resapan air yang telah tiada.
  • Laut, pencemaran limbah pertambangan juga bisa sampai ke laut akibat aktivitas bongkar muat dan tongkang angkut batubara. Akibatnya dapat mengganggu kehidupan hutan mangrove dan biota laut di sekitarnya.

Dampak terhadap Manusia, Limbah B3 pertambangan yang mencemari air dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia seperti misalnya kanker kulit hingga infeksi saluran pernapasan.

Dasar Hukum dan Prinsip Pengelolaan Limbah B3

Adapun dasar hukum dan prinsip pengelolaan limbah B3 pertambangan yang mengatur semua kegiatan termasuk pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan/atau penimbunan. 

  • Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009, Pasal 1, Angka 23
  • Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, Pasal 1 Angka 11

Yang mana dasar hukum ini mengatur pengelolaan limbah meliputi:

  • Wajib bagi yang menghasilkan limbah B3 untuk melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkan.
  • Untuk mengetahui limbah B3 yang dibedakan berdasarkan kategori bahaya, sumbernya, dan karakteristiknya.

Alur Pengelolaan Limbah B3 Pertambangan

Adapun alur pengelolaan limbah B3 pertambangan yang diurutkan dari yang paling prioritas hingga ke yang sedikit prioritas, diantaranya adalah:

Reduce

Reduksi pada sumber adalah upaya untuk mengurangi volume, toksisitas, dan tingkat bahaya pada limbah yang dapat menyebar ke lingkungan. Metode ini dilakukan sebagai upaya preventif langsung terhadap sumber pencemaran dalam hal ini limbah B3 pertambangan.

3R (Reuse, Recycle, Recovery)

3R ini merupakan pemanfaatan limbah B3 pertambanga yang merupakan upaya untuk mengurangi volume, toksisitas, dan tingkat bahaya pada limbah penyebaran pada lingkungan dengan cara menggunakan kembali (reuse), daur ulang (recycle), dan perolehan kembali (recovery).

  • Reuse adalah penggunaan kembali limbah B3 dengan tujuan yang sama tanpa memerlukan proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, ataupun secara thermal.
  • Recycle adalah mendaur ulang komponen yang bermanfaat melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, ataupun secara thermal yang menghasilkan produk yang sama ataupun produk yang berbeda.
  • Recovery adalah mendapatkan kembali komponen yang bermanfaat secara kimia, fisika, biologi, ataupun secara thermal.

Pengolahan

Adapun pengolahan dalam pengelolaan limbah B3 pertambangan terdiri dari:

Penghasil limbah B3, identifikasi penghasil limbah B3 adalah langkah awal dalam proses pengelolaan limbah. Dalam sektor pertambangan, limbah B3 dapat berasal dari berbagai sumber, seperti proses ekstraksi dan pemurnian mineral, operasi penambangan, hingga proses produksi lainnya. Memahami sumber dan jenis limbah yang dihasilkan dapat membantu dalam menentukan strategi pengelolaan yang paling tepat.

Disimpan, Setelah limbah B3 dihasilkan, langkah selanjutnya adalah penyimpanan yang tepat. Limbah B3 harus disimpan dalam wadah atau tempat yang aman dan tahan bocor, serta jauh dari sumber air atau tempat yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar.

Diangkut, Proses pengangkutan limbah B3 dari tempat penyimpanan ke fasilitas pengolahan atau penimbunan juga harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan standar yang berlaku.

Diolah atau dimanfaatkan, Dalam beberapa kasus, limbah B3 dari pertambangan dapat diolah atau dimanfaatkan. Teknologi pengolahan limbah B3 dapat digunakan untuk meminimalkan dampak lingkungan, seperti metode bioleaching yang menggunakan mikroorganisme untuk memulihkan logam berharga dari limbah pertambangan. Selain itu, beberapa jenis limbah B3 juga dapat dimanfaatkan, seperti penggunaan limbah batu bara sebagai bahan dalam produksi semen.

Penimbunan atau Landfill

Penimbunan adalah langkah terakhir pengelolaan limbah B3 pertambangan. Untuk limbah B3 yang tidak dapat diolah atau dimanfaatkan, penimbunan atau landfill menjadi opsi terakhir. Tempat penimbunan harus dirancang dengan baik untuk mencegah kontaminasi lingkungan, seperti lapisan pelindung untuk mencegah kebocoran limbah ke tanah atau air bawah tanah. Selain itu, proses penimbunan juga harus dipantau dan dilakukan pengecekan rutin untuk memastikan keamanan dan kesehatan lingkungan sekitar.

Contoh Pengelolaan Limbah B3 Pertambangan

Salah satu jenis limbah B3 dari pertambangan, yaitu slag, dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan semen. Slag adalah limbah yang berbentuk batu kaca dan mengandung berbagai zat seperti sulfida, logam oksida, dan silikon dioksida. Meskipun tergolong sebagai limbah B3, dengan pengolahan yang tepat dan teliti, slag dapat diubah menjadi bahan yang bernilai ekonomis. Proses pengolahan slag menjadi semen melibatkan beberapa tahapan yang dirancang untuk mengekstraksi dan mengubah komponen slag menjadi bahan baku yang cocok untuk produksi semen.

Kesimpulan

Dari bahasan di atas, kita mengetahui bahwa pengelolaan limbah B3 pertambangan sangatlah penting untuk mencegah dan terhindar dari pencemaran lingkungan karena limbah yang bersifat berbahaya dan beracun. Maka dari itu diperlukannya pengolahan limbah B3 pertambangan yang sesuai dengan dasar hukumnya dan aturan yang berlaku. Seperti pemanfaatan limbah B3 pertambangan menjadi semen dan seterusnya.

Ralali Business Solution

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.