Memahami Pengolahan Limbah B3 dengan Insinerasi Sesuai Undang-undang

0

B3 atau bahan berbahaya dan beracun adalah suatu masalah serius yang menuntut penanganan dan pengolahan lebih lanjut terutama bagi penghasil B3 seperti industri ataupun pabrik. Jika B3 tidak ditangani dengan benar maka dapat menimbul ancaman besar bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu metode pengelolaan limbah B3 yang efektif adalah insinerasi. 

Insinerasi atau pembakaran adalah teknologi yang dapat menghilangkan sekaligus memusnahkan bahan berbahaya dan beracun pada limbah dengan cara membakarnya pada suhu optimal 1400 – 1800 Fahrenheit. Untuk lebih jelasnya mari kita simak penjelasan pengolahan limbah B3 dengan metode insinerasi berdasarkan undang-undang yang berlaku.

Penjelasan Pengolahan Limbah B3 dengan Insinerasi

Insinerasi limbah B3 bertujuan mereduksi volume dan jumlah limbah hingga 90% dan 75%. Metode ini mengubah materi padat menjadi abu dan gas. Penggunaan teknologi insinerasi juga dapat menghasilkan energi, menjadikannya salah satu cara atau metode yang tepat dalam pengelolaan limbah B3.

Meski begitu, pengoperasian teknologi insinerasi tidaklah mudah. Beberapa pertimbangan perlu diperhatikan seperti suplai oksigen yang cukup. Jika kurang, efek samping dari pembakaran berupa karbon monoksida dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan mencemari udara. Maka dari itu metode insinerasi ini diatur sedemikian rupa dalam undang-undang agar dapat meminimalisir efek samping yang berdampak pada lingkungan sekitar hingga kesehatan masyarakat.

Spesifikasi Teknis Proses Insinerasi Menurut Undang-undang

Pengolahan limbah B3 melalui proses insinerasi memiliki spesifikasi teknis yang ketat menurut undang-undang. Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa proses pengolahan limbah B3 dengan insinerasi membutuhkan temperatur minimum sebesar 1400 – 1800 Fahrenheit. Selain suhu adapun beberapa spesifikasi teknis insinerasi menurut undang-undang yakni:

  1. Sistem pengumpanan dilakukan secara mekanik.
  2. Memiliki dua atau lebih ruang pembakaran dengan temperatur paling rendah 800°C untuk ruang pembakaran pertama, dan 850°C – 1.200°C untuk ruang pembakaran kedua.
  3. Sistem pembakaran terdiri dari sistem pembakaran utama atau primary combustion burner dan sistem pembakaran kedua atau disebut secondary combustion burner.
  4. Fasilitas pengendalian pencemaran udara harus ada.

Persyaratan Lokasi Insinerasi

Lokasi insinerasi juga harus memenuhi persyaratan tertentu. Menurut undang-undang, lokasi insinerasi harus memiliki syarat:

  1. Pada tempat yang bebas banjir atau daerah yang dapat dilakukan upaya pengubahan atau renovasi dengan teknologi untuk perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
  2. Berada di kawasan industri dan/atau daerah yang diperuntukkan sebagai daerah industri sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, bagi Pengolah Limbah B3.
  3. Memiliki jarak yang aman, paling dekat 150 meter dari jalan utama atau jalan tol, 300 meter dari daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan dan pendidikan. Juga harus berjarak 300 meter dari garis pasang naik laut, sungai, daerah pasang surut, danau, rawa, mata air, dan 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam dan hutan lindung.

Jenis-jenis Insinerator Limbah B3

Alat insinerator ini memiliki berbagai macam jenis, diantaranya:

  1. Incinerator Rotary Kiln: jenis insinerator yang menggunakan sistem perputaran untuk menghasilkan pembakaran yang merata ke seluruh bagian incinerator. Jenis ini terdapat dua kali pemrosesan pembakaran yakni primary chamber dan secondary chamber.
  2. Fluidized Bed Incinerator: jenis insinerator yang berbentuk tungku yang digunakan menggunakan media pengaduk berupa pasir silika atau pasir kuarsa, metode ini memanfaatkan pencampuran homogen antara butiran pasir dengan udara.
  3. Multiple Hearth Incinerator, Single Chamber Incinerator, Aqueous Waste Injection Incinerator: Variasi insinerator lainnya juga banyak digunakan sesuai kebutuhan dan karakteristik limbah yang diolah.

Untuk lebih detailnya Anda bisa baca artikel alat pengolahan limbah B3 tentang jenis-jenis insinerator dan manfaatnya.

Kelebihan dan Kekurangan Pengolahan Limbah B3 dengan Insinerasi

Kelebihan pengolahan limbah B3 dengan insinerasi antara lain:

  1. Dapat digunakan ke semua jenis limbah B3.
  2. Bisa mengurangi volume dan jumlah limbah B3 hingga 90%.
  3. Dapat menjadi sumber energi.
  4. Pengolahan yang tidak dipengaruhi oleh iklim.
  5. Dapat mengurangi volume limbah B3 dalam waktu singkat.

Namun, pengolahan limbah B3 dengan insinerasi juga memiliki beberapa kekurangan, seperti:

  1. Dapat mencemari udara jika tidak dilengkapi dengan pengolahan gas buang.
  2. Melepaskan CO2 dengan jumlah besar.
  3. Menghasilkan abu pembakaran limbah B3 hingga 20%.
  4. Membutuhkan biaya operasional yang besar.

Kesimpulan

Pengolahan limbah B3 dengan insinerasi merupakan metode yang efektif, namun perlu diperhatikan spesifikasi dan persyaratannya yang ditetapkan oleh undang-undang yang mengaturnya. Walaupun memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, metode insinerasi ini masih banyak yang melakukanya hingga dapat mengurangi jumlah limbah B3 secara signifikan hingga dapat dijadikan sebagai sumber energi.

Ralali Business Solution

Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.